Free pesticide community

Life without chemical pesticides

Healthy community living without chemical pesticides.
Join now and share your content
  1. Semai Kebaikan Tuai Keberkahan

    Alhamdulillah atas kesempatan dan kemampuan yang Allah berikan kepada kita untuk ikut terlibat dalam upaya pemberdayaan, pencerdasan dan pemandirian »Read on

    about 1 month via Rss
  2. Catatan Pelatihan Budidaya Padi Sehat dan Praktek Pembuatan Kompos di Cluster Cianjur

    Griya Tani Sehat Desa Sukaraharja – Cianjur, Pelatihan budidaya padi sehat dan praktek pembuatan »Read on

    about 1 month via Rss
  3. Inspirator dari Kampung Selaawi

    Iwan Ridwan (43) bukan warga kelahiran Kampung Selaawi, Desa Cibalung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Bapaknya berasal dari Kalimantan, sementara »Read on

    about 1 month via Rss
  4. 2009, Hampir 60.000 Ha Sawah Puso

    DEPARTEMEN Pertanian (Deptan) mengungkapkan, hampir 60 ribu hektare (ha) atau tepatnya 59.990 ha pertanaman padi mengalami puso atau gagal panen »Read on

    about 1 month via Rss
  5. Beramal sholeh dengan mendukung program pertanian sehat

    Pemandangan indah memanjakan  mataku tatkala melakukan supervisi program pemberdayaan petani di sebuah  kecamatan di kabupaten »Read on

    about 1 month via Rss
  6. Pertanian Sehat

    Definisi Pertanian SehatPertanian sehat adalah proses budidaya  tanaman yang memprioritaskan pada penggunaan bahan-bahan alami yang ramah  lingkungan, mudah dan murah »Read on

    about 1 month via Rss
  7. Penguatan Program P3s Brebes

    Hingga satu tahun program P3S Cluster  Brebes Utara berjalan, telah banyak hasil yang dicapai dari kegiatan di  lapangan. Saat ini telah terhimpun 90 KK »Read on

    about 1 month via Rss
  8. gosri

    gosri Budidaya padi secara konvensional yang dilakukan oleh para petani yang sekaligus juga pemilik lahan saat ini bila dihitung memang tidak memberikan kecukupan untuk hidup apalagi secara hitungan bisnis akan kurang menjanjikan. Perhitungan kasar atau sederhananya untuk kepemilikan lahan petani setempat diumumnya banyak daerah (kecuali seperti di Karawang atau Subang utara) yang rata-rata hanya tinggal sekitar ¼ hektar (2.500 m2) hasil yang bisa diperoleh rata-rata adalah sekitar 1,25ton GKP (Gabah Kering Panen) sebelum dipotong bagian pemanen/buruh panen atau sekitar 1,1ton setelah dipotong biaya pemanen, dengan kondisi produktivitas musim tanam berikutnya berpotensi menurun akibat tanah yang semakin ‘sakit’. Pendapatan kotor petani bila gabahnya dijual dengan harga rata-rata sekitar Rp. 2.800/kg (sewaktu panen raya bisa anjlok sampai menjadi Rp. 2.300/kg, dan pada masa 2 bulan sebelum panen berikutnya bisa melonjak menjadi Rp. 3.200/kg) adalah Rp. 3.080.000/Musim Tanam. Bila diasumsikan biaya olah lahan (traktor/kerbau) untuk luas tersebut adalah Rp. 250.000, biaya tanam adalah Rp. 150.000, pupuk kimia urea saja (pupuk terfavorit dan sesuai dengan kebiasaan petani yang tidak mampu membeli pupuk TSP dan KCL) sebanyak 75kg dengan harga di pasaran Rp. 1.800/kg atau biaya pupuknya adalah Rp. 135.000 dan biaya obat-obatan diasumsikan Rp. 100.000 serta perawatan dilakukan sendiri oleh petani maka pendapatannya setelah dipotong biaya-biaya ini menjadi Rp. 2.445.000/Musim Tanam atau selama 4 bulan. Bila diasumsikan juga kondisi sawahnya bagus termasuk pengairannya sehingga bisa dilakukan 3 kali tanam dalam setahun maka penghasilan rata-rata petani dari lahannya adalah Rp. 611.250/bulan. Bila sistem pengairannya sudah rusak sehingga menjadi sawah tadah hujan yang hanya bisa ditanami satu atau dua kali saja selama setahun maka penghasilan rata-rata perbulan dari sawahnya akan semakin menurun drastis.

    Dengan penghasilan sejumlah sekian yang dihasilkan dari sawahnya maka tidak heran bila petani lebih memilih menjual sawahnya yang diasumsikan seharga Rp. 15.000/m2 sehingga mendapatkan dana sebesar Rp. 37.500.000 dan bisa dibelikan 2 atau 3 unit sepeda motor untuk diomprengkan jadi ojeg. Sawah yang terjual biasanya jatuh ke tangan orang kota sebagai investasi sehingga tidak terlalu memikirkan hasilnya, dan bila ada kesempatan untuk menjualnya kembali dengan kenaikan harga yang cukup tinggi maka akan segera menjualnya tidak peduli apakah nantinya akan dijadikan tempat industri, perumahan atau apapun. Kondisi di atas adalah untuk petani yang sekaligus pemilik lahan, untuk petani penggarap yang hasil panennya harus dibagi dengan pemilik lahan tentu penghasilannya akan lebih memprihatinkan lagi atau untuk petani penyewa lahan yang harus mengeluarkan biaya sewa, demikian juga dengan profesi buruh tani yang kalah gengsi dan kalah penghasilan dibandingkan dengan buruh bangunan. Lambat laun memang profesi petani ‘layak’ untuk ditinggalkan karena tidak dapat memberikan harapan untuk hidup secara layak, dan lahan-lahan produktif pun segera berubah fungsi, dan kelanjutan ceritanya nanti???? Impor beras seperti yang sering terjadi atau meluasnya kasus rawan pangan, na’udzubillah mindzalik.

    Kemudian pertanyaannya apakah benar lahan dengan luas sekian sudah tidak bisa ditingkatkan lagi hasilnya sehingga dapat memberikan pendapatan yang layak? Tentu saja jawabannya ‘absolutely’ benar bila pola yang digunakan tetap menggunakan pola sebelumnya yaitu sistem pertanian konvensional atau mengadopsi revolusi hijau : monokultur (satu jenis komoditas), peningkatan input-input pertanian (air, pupuk kimia, pestisida kimia, herbisida kimia, dll) tanpa memperhatikan keberlanjutannya. Lalu adakah cara lain sebagai solusinya? Tentu saja tidak ada cara lain untuk keluar dari kebuntuan ini kecuali dengan merubah pola bertani dan tidak ada pilihan lain lagi selain beralih ke pertanian organik secara terintegrasi yang sejalan dengan tuntunan agama. Untuk lahan sawah yang sudah ‘sembuh’ setelah beberapa musim tanam melalui sistem pertanian organik ini akan memberikan hasil panen yang berlipat. Misalkan untuk lahan ¼ ha, 500 m2 dijadikan kandang itik dan kolam ikan serta di atas kolam ikan adalah rumah jamur maka lahan yang tersisa untuk sawah adalah 2.000 m2. Pada pertanian SRI Organik yang sudah stabil, lahan seluas 2.000 m2 dapat memberikan hasil sebanyak 2ton GKP, atau 1,8ton setelah dipotong biaya panen dan asumsi harga sama dengan harga sebelumnya sehingga diperoleh hasil Rp. 5.040.000, apalagi bila sudah mendapatkan pasar untuk komoditas organik maka pendapatan akan meningkat lagi. Asumsi lainnya sama dan ada pengurangan biaya pupuk/obat-obatan sehingga pendapatan petani setelah dipotong biaya-biaya menjadi Rp. 4.640.000/Musim Tanam atau rata-rata Rp. 1.160.000/bulan dan produktivitas musim tanam selanjutnya masih berpotensi mengalami kenaikan karena tanahnya semakin ‘sehat dan segar’. Pendapatan lain yang bisa diperoleh adalah dari panen ikan/lele dalam waktu sekitar 40 harian, kemudian panen itik pedaging dalam waktu sekitar 2 bulan-an dan panen harian dari jamur. Potensi hasil lainnya adalah dari pematang sawah yang ditanami tanaman obat atau sayuran seperti kacang panjang dan lainnya. Bila pola ini diterapkan secara benar dan konsisten dengan etos kerja yang tinggi tentunya memberikan harapan tercukupinya kebutuhan hidup minimal petani secara layak. Bisakah lahan dengan luas sekian memberikan penghasilan yang lebih bagi petani? Tidak ada yang tidak mungkin, bila area tersebut memungkinkan atau bisa dijadikan sebagai sentra perdagangan komoditas atau tempat pelatihan atau tempat wisata tentu akan memberikan penghasilan tambahan bagi para petani.

    Pertanyaan selanjutnya, bagaimana agar pola ini dapat diterima dan diaplikasikan oleh para petani? Disinilah peran para entrepreneur bidang agribisnis organik untuk melakukan perubahan dan hanya melalui skema ‘Social Entrepreneurship’ tujuan ini dapat dicapai. Bila aplikasi pertanian organik ini dimasa-masa awalnya semata-mata dilakukan melalui skema Business atau Commercial Entrepreneurship maka akan mengalami banyak benturan antara kepentingan merubah kultur sosial dan ekonomi masyarakat petani dengan kepentingan mendapatkan profit sebanyak-banyaknya. Dalam Business atau Commercial Entrepreneurship, kepentingan para investor dalam mendapatkan laba secara cepat sesuai dengan yang direncanakan dalam perencanaan usaha akan cenderung ‘menekan’ pelaku usaha dan selanjutnya pelaku usaha harus menekan petani sebagai salah satu objek usaha. Tidak demikian halnya dengan Social Entrepreneur yang merupakan ‘agen perubahan’ yang menginginkan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik dan idealnya secara berketahanan/sustainable. Namun demikian, tidak juga berarti bahwa Social Entrepreneurship mengenyampingkan samasekali masalah profit, tetapi fokusnya memang adalah pencapaian dalam memberikan solusi terhadap masalah-masalah sosial dalam masyarakat untuk menuju kehidupan masyarakat yang lebih baik.

    Untuk mendorong masyarakat petani dalam peralihan dari sistem konvensional menuju sistem pertanian organik terintegrasi memerlukan upaya yang tidak mudah dan tidak sebentar atau harus secara bertahap. Acapkali apa yang diupayakan oleh para pelaku yang terjun mendorong perubahan ini mengalami ketidakberhasilan dimasa-masa awal yang memang lumrahnya sangat sulit karena harus merubah berbagai hal. Berbagai kendala yang akan dihadapi mulai dari etos kerja masyarakat petani yang rendah karena sudah terbiasa serba instan, pola pikir yang sempit, usia tenaga kerja yang tidak produktif, ‘teror’ mental dari masyarakat sekitar bahkan dari oknum aparat, faktor alam yang semakin tidak menentu dan semakin rusak serta banyak hal lainnya, memerlukan kerja keras dan kesabaran yang ekstra tinggi untuk secara perlahan-lahan diperbaiki dan dicarikan solusinya. Tentu saja bila pelaksanaan peralihan sistem ini dilakukan dalam kerangka Business atau Commercial Entrepreneurship akan sangat membebani pelakunya karena goalnya adalah ‘profit, profit dan profit’ yang harus segera bisa dicapai sedangkan untuk mencapainya diperlukan dahulu perubahan banyak hal dalam masyarakatnya. Oleh karenanya untuk kondisi peralihan ini maka yang lebih tepat untuk diterapkan adalah skema Social Entrepreneurship dengan goal perubahan kultur sosial dan ekonomi masyarakat untuk menuju kepada kehidupan yang lebih baik.

    Kemudian sistem bagi hasil antara penggarap dan pemilik sawah yang berlaku saat ini tidak adil, seharusnya bukan 50%:50% tetapi bagian petani penggarap seharusnya lebih besar dengan alasan mengambil gambaran sebelumnya untuk kepemilikan properti seharga Rp. 37.500.000 maka bila disewakan pemilik properti akan memperoleh 5% dari harga properti per tahun atau Rp. 1.875.000 per tahun. Namun bila diserahkan ke petani penggarap pada kasus masih menggunakan sistem konvensional saja maka pemilik lahan akan mendapatkan bagi hasil Rp. 2.445.000/2 atau Rp. 1.222.500 untuk satu musim tanam atau Rp. 3.667.500 per tahun yaitu sekitar 2 kali lipat dari yang umumnya pemilik properti terima dari sewa, apalagi kalau sudah mengaplikasikan sistem pertanian organik yang sudah stabil berjalan akan makin berlipat perolehan dari pemilik properti. Mudah-mudahan suatu saat nanti GO SRI atau pihak lain dapat merubah skema bagi hasil ini secara bertahap sehingga bisa lebih adil dan dapat memberikan kesejahteraan yang lebih merata serta tentunya harus secara arif dan bertahap sehingga tidak menjadi pemicu terjadinya gejolak di tempat/lahan lain dalam satu daerah yang belum melakukan perubahan. Social Entrepreneurship ini juga sudah dilakukan oleh berbagai mitra GO SRI seperti P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat), LPIA Sukabumi, Yayasan Auliya Banten Enlightenment dan tentunya masih sangat banyak pihak lainnya yang sudah terlebih dahulu melakukan hal serupa juga. Dengan banyaknya para Social Entrepreneur yang berkecimpung dalam upaya pemberdayaan masyarakat petani sebagai komponen atau pelaku utama bidang pertanian, diharapkan pertanian Indonesia akan mulai menapaki masa depan yang cerah dan diridloi Allah SWT dengan syarat utama pada para petaninya dapat berhasil ditumbuhkan keinginan untuk berubah, tercantum dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ra’ad ayat 11: "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya", maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

    Utju Suiatna
    Penulis Buku ‘Bertani Padi Organik Pola Tanam SRI’ (penerbit : Padi Bandung)
    Ganesha Organic SRI/GO SRI
    utju@infoorganik.com
    http://www.infoorganik.com

    2 months
  9. gosri
  10. aris aria samudtra

    aris aria samudtra kenapa selalu memikirkan apa yang tak pantas dipikirkan....
    sedangkan yang pantas kita pikirkan tak pernah sedikitpun kita peduli..
    kesehatan adalah segalanya...
    kesehatan adalah hidup kita

    6 months
  11. aris aria samudtra
  12. freepest

    freepest untuk hidup yang lebih sehat dan lebih baik

    9 months
  13. Rachman S
  14. om JODi

    om JODi kesehatan memang mahal harganya, kenapa anda tidak bersegera mencegah sakit dengan memulai konsumsi yang baik-baik....

    11 months
  15. om JODi
  16. freepest

    freepest Jangan korbankan kesehatan Anda! Saatnya mengkonsumsi produk pertanian bebas pestisida kimia

    about 1 year
  17. freepest

    freepest Selamat datang di komunitas pertanian sehat

    about 1 year
  18. freepest
 
Meet your friends and other visitors on all Livecommunity websites.

Great, go ahead and promote the best stuff from the web.

The community's best content

    Nothing here yet. The most liked items will be listed hiere.

About this community

  • Founded on: 3/11/09
  • Posts: 24
  • Members: 9
  • Websites: 5
Free Pesticide Community
Founder:

freepest
Bogor, Indonesia

 
Users online. Login - Join sixgroups.com home
Please activate JavaScript to enjoy the full sixgroups.com experience.